<We_can_help/>

What are you looking for?

Digitex Campus - Kampus Negeri Malang Maju Mundur Sambut Kuliah Tatap Muka

Digitex Campus - Kampus Negeri Malang Maju Mundur Sambut Kuliah Tatap Muka

MALANG KOTA – Sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) masih maju mundur untuk menggelar perkuliahan tatap muka. Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) RI sudah memberikan restu.

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang sudah menyiapkan rencana, tetapi masih membutuhkan tata laksana. Sedangkan Universitas Negeri Malang (UM) beralasan menunggu instruksi resmi. Di UIN Malang, rencana digelarnya kuliah tatap muka itu sudah dibahas pada Rabu lalu (2/6).

”Sesungguhnya kita punya rencana untuk meng-offline-kan para mahasiswa baru,” ungkap Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr H. Abdul Haris MAg beberapa waktu lalu.

Prof Haris mengatakan, sebelum dimulainya kuliah tatap muka, pihaknya memerlukan tata laksana yang sesuai dengan ketentuan. Artinya, tidak boleh ada pelanggaran sedikit pun karena ini merupakan hal yang sensitif. Standar protokol kesehatan (prokes) harus dikuatkan agar tak sampai menimbulkan klaster baru.

Berbeda dengan kampus umum, di UIN Maliki Malang seluruh mahasiswa baru wajib masuk mahad atau asrama. Sehingga, mahasiswa baru tersebut dapat dipantau terlebih dahulu.

”Kita diuntungkan, mahasiswa baru ini semuanya di satu lokasi. Kita mengambil ibrah (mengambil pelajaran dari pengalaman yang menimpa orang lain) dari pesantren,” sambung Prof Haris yang masuk bursa Calon Rektor (Carek) UIN Maliki untuk periode selanjutnya itu.

Prof Haris mengatakan, pembelajarannya juga direncanakan diatur sedemikian rupa untuk mengantisipasi penularan virus korona. Misalnya hanya menggunakan 50 persen dari kapasitas normalnya.

”Jadi, satu kelas ada 20 mahasiswa dengan jaga jarak. Sisanya mengikuti secara daring,” sambungnya.

Di pihak lain, Sub Koordinator Humas Universitas Negeri Malang (UM) Ifa Nursanti mengaku masih menunggu instruksi lebih lanjut. Sebab, pihaknya masih menggelar kuliah secara daring (online) pada semester depan. Jika memang ada kuliah tatap muka, Ifa mengatakan, UM akan mengizinkan namun sebatas untuk kegiatan praktikum.

”Jika memang ada izin dan legalitas ya kami akan terapkan (kuliah tatap muka),” ujar dia.

Sebagai persiapan, UM menyediakan standar prokes, seperti tempat cuci tangan, thermo gun, maupun penataan ruang yang berjarak. Selama ini, Ifa mengakui bahwa mahasiswa UM juga kadang ingin kuliah secara tatap muka. Namun, kondisi Covid-19 yang masih tinggi juga jadi penyebab belum ada kuliah tatap muka.

Ifa pun ingin ada surat edaran (SE) dari wali kota terkait kuliah tatap muka. Itu menjadi acuan dasar hukum mereka dapat menggelar tatap muka. Selama ini, restu dari Wali Kota Malang Sutiaji terkait perkuliahan tatap muka masih sebatas lisan sehingga UM tidak berani menggelar perkuliahan offline.

”Kami harapkan seperti itu, tapi kami juga tidak gegabah demi keselamatan mahasiswa,” tandasnya.

Sementara itu, Universitas Brawijaya (UB) akan menerapkan sistem perkuliahan blended learning, yakni dilakukan secara daring maupun luring. Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menjelaskan, sistem perkuliahan tersebut dilakukan demi menjaga prokes. Nantinya, dalam satu kelas ada 25 persen mahasiswa mengikuti pembelajaran secara luring. Selebihnya, 75 persen daring.

”Tentunya ini sebagai langkah mempermudah mahasiswa yang rindu suasana belajar di kampus maupun kesusahan saat daring,” ujarnya beberapa waktu yang lalu.

Prof Nuhfil menambahkan, mahasiswa UB yang ditentukan untuk hadir di kampus yakni mahasiswa semester I, III, dan yang sedang menyusun tugas akhir. Pembagian itu nantinya harus mendapatkan persetujuan dari orang tua/wali mahasiswa. Mahasiswa yang tidak mendapat persetujuan dari orang tua/wali tidak diperbolehkan mengikuti kuliah secara luring. (adn/c1/dan/rmc)

Editor : Shuvia Rahma

wa