<We_can_help/>

What are you looking for?

Bareng UMM, Lembaga Sensor Film Gencarkan Kampanye Sensor Mandiri

Bareng UMM, Lembaga Sensor Film Gencarkan Kampanye Sensor Mandiri

MALANG KOTA – Belum lama baru ini publik dihebohkan dengan munculnya sinetron dengan menyuguhkan anak di bawah umur yang berperan sebagai istri simpanan. Hal ini cukup menyita atensi dengan beragam opini masyarakat. Ini tentu bukan kasus pertama dan kian menunjukkan seperti apa mutu sinema di Indonesia.

Hal ini diulas dalam seminar bertajuk “Sensor Film, Antara Kebebasan Berkreasi dan Menjaga Budaya Bangsa” yang digelar Prodi Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerjasama dengan Lembaga Sensor Film (LSF) Rabu (9/6).

Dalam paparannya, dosen Komunikasi UMM Nasrullah mengatakan, bahwa film ada di antara tiga posisi strategis. “Yakni sebagai industri, komunikasi massa dan kebudayaan,”ujarnya. Sebagai industri, perfilman merupakan bisnis yang menggiurkan yang melibatkan tidak hanya insan film di bidang produksi, tapi juga distribusi dan penayangannya.

Di sisi lain, film merupakan komunikasi massa yang sangat tergantung dari apa isi dan bagaimana teknologi infomasi yang membawanya sampai kepada penonton. ”Film dalam konteks ini dapat digunakan untuk propaganda hingga agitasi,” tambahnya.

Film juga merupakan produk budaya yang penting, lanskap peradaban sehingga untuk melihat kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari filmnya. “Jika Korea dapat menggoncang dunia melalui Korean Wave, maka seharusnya Indonesia bisa menggerakkan anak-anak muda di belahan dunia lain untuk menggandrungi kuliner rendang, tarian pendet, kepulauan di Labuhan Bajo atau Raja Ampat,” ungkapnya. Disinilah, kekuatan film sangat dahsyat mempengaruhi khalayak.

Sementara itu, dari pengamatan Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto, saat ini sedang terjadi tsunami tontonan. Tidak hanya di bioskop dan televisi, di platform digital publik justru lebih bebas memilih. “Di sinilah urgensinya sensor mandiri. Masyarakatlah yang harus memilih dan memilah sendiri tontonan yang sehat untuk diri sendiri dan keluarganya,” terang Rommy.

Karena itu LSF mulai tahun ini akan memassifkan gerakan Sensor Mandiri. Gerakan itu dimulai dari mengajak masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari khalayak film yang kritis. LSF tidak akan lagi menjadi tukang potong film. “Paradigma baru LSF bukan lagi menggunting film, tetapi berdialog dengan produser film untuk menentukan batas usia penonton, mendiskusikan mengenai adegan yang perlu direvisi atau dihilangkan, sampai menemukan titik temu yang tidak mengganggu jalan cerita film tetapi juga tetap menjaga nilai-nilai budaya bangsa kita,” terangnya.
Sementara itu, Rektor UMM Dr Fauzan MPd mendukung Prodi Komunikasi UMM melanjutkan sinergi dan rencana kerjasama dengan LSF agar lebih produktif lagi. ”Ini tentu akan sangat bagus untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Editor : Ahmad Yani

wa